Cerita Sex Dewasa – Malam itu, di sebuah acara pesta ulang tahun yang hingar-bingar, pandanganku tak bisa lepas dari sosoknya. Arga, keponakanku sendiri, yang baru berusia 25 tahun. Sepanjang acara, matanya terus mencuri pandang ke arahku, seakan ingin menelanku bulat-bulat. Aku tahu itu salah, aku seorang wanita berusia 36 tahun, seorang istri dan ibu dari dua anak, tapi tatapannya membuat gairah yang lama terkunci dalam diriku kembali bergejolak. Tubuhku yang masih terawat, dengan tinggi 165 cm dan berat 47,5 kg, seolah menjawab setiap tatapan nakalnya. Sejak aku masih muda, aku dikenal sebagai peragawati dan foto model. Penampilan dan lekuk tubuhku membuat banyak mata melirik, dan aku menikmati itu. Bahkan bibirku yang seksi selalu menjadi pusat perhatian. Arga, anak kakakku, mewarisi ketampanan keluarganya. Perawakannya tegap, atletis, dengan rambut hitam bergelombang. Dia memiliki kharisma yang kuat dan seringkali menggodaku secara halus. Aku seringkali melamun tentang Arga. Bagaimana rasanya menciumnya, memeluknya, atau dipeluknya. Ada arus listrik yang mengalir di antara kami setiap kali mata kami bertemu. Aku tahu ini tabu, ini terlarang, tapi hasrat itu terlalu kuat untuk diabaikan. Aku seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta, setiap malam memikirkannya. Pesta berlangsung lancar, tetapi hatiku tidak tenang. Kakakku meminta bantuanku untuk mengambil kue tart dari toko roti. Tak ada orang lain yang bisa dimintai tolong, jadi Arga mengajukan diri mengantarku dengan mobilnya. Jantungku berdebar tak karuan. Ini adalah kesempatanku, kesempatan kami. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku siap. Saat kami berdua masuk ke dalam mobil, aku sengaja menjatuhkan dompetku di garasi. Arga membantuku mengambilnya, dan saat itulah tangan kami bersentuhan. Tubuhnya membungkuk, sangat dekat denganku, dan dalam satu gerakan cepat, dia memegang tanganku, menarikku, lalu mencium pipiku. Senyum nakal tersungging di bibirku. Aku tidak bereaksi, tidak marah, tapi juga tidak menolak. Aku hanya menikmati sentuhan itu. Di dalam mobil, dia kembali mencuri-curi pandang, lalu saat lampu merah, dia mencium bibirku. Ciuman itu intens, melumat, dan lidahnya masuk ke dalam mulutku, membelai lidahku. Tangannya menekan pahuku, membuatku terkejut, tapi gairah itu mengalir deras. Tubuhku merinding, basah. Aku mendorongnya dengan lembut, menggumam, “Jangan di sini, nanti ada yang lihat.” Aku tidak ingin menghentikannya, hanya memindahkannya ke tempat lain. Arga mengerti. Sepanjang perjalanan, dia terus mencuri-curi ciuman, membisikkan kata-kata manis. “Tante cantik,” bisiknya. Di dekat rumah, dia membisikkan kata-kata yang membuatku lemas, “Aku mau Tante.” Dia mencium telingaku, membuatku merinding sampai ke bawah. “Ssshhh…” desahku. Aku menatapnya dan tersenyum, berharap dia mengerti kodeku. Sesampai di pagar rumah, aku berbisik, “Telepon aku besok pagi.” Dia tersenyum, mengerti. Pesta ulang tahun berjalan lancar, dan aku pulang bersama suami, dengan perasaan seperti gadis yang sedang kasmaran. Pikiranku terus-menerus memutar ulang kejadian tadi sore. Kemaluan ku terasa basah dan gatal. Aku tidak bisa tidur, berharap pagi cepat datang. Pagi-pagi keesokan harinya, Arga menelepon. Kami janjian makan siang. Jantungku berdebar tak karuan. Pikiranku hanya fokus pada satu hal: melepas semua penat dan hasrat yang sudah lama terkunci. Singkat cerita, setelah makan siang yang penuh godaan, Arga membawaku ke sebuah motel di pinggir kota. Aku menurut, tanpa sedikitpun protes. Pintu kamar motel belum tertutup rapat, saat aku sudah berada di pelukannya, menciumnya dengan berapi-api. Bibir kami saling melumat, lidah kami saling beradu. Tangannya menjelajahi seluruh tubuhku, membelai bokongku, dan menekan tubuhnya ke arahku. Aku membalas, tanganku meremas burungnya yang sudah mengeras di balik celananya. “Gila, ini gila,” gumamku dalam hati, “tapi aku suka.” Arga menggendongku ke ranjang. Dia mulai membuka kancing bajuku, menciumi leherku, lalu beralih ke buah dadaku. Dia menciumnya bergantian, menghisap putingku dengan lembut. Aku merasakan seluruh tubuhku tersengat listrik. Gairah itu mengalir deras, membuatku merinding. Kemaluan ku sudah basah, cairan kenikmatan mengalir deras. “Nnnnggghhh…” desahku. Lanjut bab dua: Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya CHAPTER DUA Arga mulai melepas rok dan celana dalamku. Dia menciumi perut dan kemaluanku. “Aaaahhh…” desahku, “terus…” Jarinya mulai memasuki celah-celah kemaluanku, memainkannya dengan lihai. “Ssshhh…ahhh…ahhh…” desahku. Aku sudah tidak bisa menahan diri, hasratku sudah di ubun-ubun. “Gila, ini gila,” gumamku. Dia mulai menciumi kemaluanku. Dia melumat bibir kemaluan, menghisapnya, dan lidahnya memasuki celah-celahnya. “Aduh, gila rasanya selangit,” gumamku. Dia menghisap klitorisku dengan lembut. “Aaaaaahhhh!” teriakku, tanganku meremas rambutnya. Aku mencapai puncak, cairan kenikmatan mengalir deras. Dia membenamkan seluruh wajahnya di kemaluanku yang basah, dengan desahan kepuasan. Aku terus-menerus mencapai puncak, seolah tak ada habisnya. “Gila! Belum pernah aku dibeginikan!” gumamku. “Dia pintar sekali, seperti punya banyak pengalaman.” Aku hanya bisa menggerakkan kepalaku ke kanan dan kiri, mataku terpejam, mulutku terbuka, dengan suara mendesah keenakan. “Sekarang giliranku,” bisikku, menariknya ke atas. Aku membalikkan tubuhnya, dan menggenggam batang kemaluannya. “Wah, besar juga, kencang lagi,” gumamku. Aku langsung menghisapnya dengan penuh gairah. “Nnnnggghhh…” erang Arga. Setelah sepuluh menit, dia melepaskannya. Dia lebih menghendaki keluar di dalamku. Arga kini berada di atasku. Batang kemaluannya bergerak-gerak di bibir kemaluanku. “Enak banget,” desahku. Perlahan, dia memasukkan batang kemaluannya. “Rasanya benar-benar selangit!” teriakku dalam hati. Dia menekan sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. “Gila! Enak banget!” Dia terus memutar-mutar sambil keluar masuk. Aku mencapai puncak duluan, meledak-ledak. “Croot! Croot! Croot!” terdengar suara cairan yang membasahi sprei. Aku melayang, kehilangan napas, sampai terasa hampa saking nikmatnya. Arga masih terus memompanya, memutar, menggaruk-garuk, dan sesekali menciumku. Ciumannya di telinga, bersamaan dengan tekanan batang kemaluannya, membuat seluruh tubuhku menggigil nikmat. Aku kembali orgasme. “Gila, sungguh nikmat tiada tandingan!” Akhirnya, Arga mulai mengerang. “Aku mau keluar,” bisiknya. Dengan tekanan yang mantap, dia menyemprotkan maninya yang hangat dan banyak ke dalam liang kemaluanku. “Aaaahhh!” desahku, “Oh Tuhan, tak ada tandingannya.” Kehangatan semprotannya menggelitik lagi kemaluanku, membuatku kembali orgasme. Kami keluar bersama, pingsan sesaat. Setelah selesai, kepuasan yang menyeluruh terasa di badan. Kami masih berpelukan, menikmati tanpa kata-kata, sampai akhirnya kami tertidur sejenak. Siuman setelah sepuluh menit, rasa gatal masih terasa di kemaluanku. Aku mengusap-usap batang kemaluan Arga, ingin rasanya dia memenuhiku lagi. Tanpa bertanya, aku bangkit, jongkok di atasnya, dan memasukkannya perlahan. “Aaaahhhh!” teriakku, “Gila!” Ganti aku yang memompa, kadang merunduk memeluknya dan menciumnya, kadang duduk menikmati penuhnya di kemaluanku. “Rasanya enak sekali, karena aku yang mencari posisi yang terenak untukku,” gumamku. Setelah beberapa waktu, kenikmatan mulai memuncak lagi, dan akhirnya mencapai puncak tertinggi. Orgasme meledak-ledak lagi, dengan teriakan-teriakan nikmat. Arga mengikutiku dengan semprotan keduanya. “Gila, enaknya sungguh sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya!” teriakku. Setelah puas, kami kembali ke rumah. Di perjalanan pulang, kami diam, hanya tangan kami yang saling memegang. Malamnya, menjelang tidur, kemaluanku kembali tergelitik dengan ingatan pengalaman siang tadi. Aku merengek pada suami, memijat-mijat halus burungnya, sambil membayangkan kemaluan Arga. Aku mencoba menikmati penetrasi suami, tapi kepuasan yang kurasakan tidak sedalam yang Arga berikan. Aku tahu, aku akan terus bertemu dengan Arga. Semua fantasi seks dan mimpi-mimpiku akan kami wujudkan. Arga bisa membuatku orgasme hingga tiga belas kali. Aku merasa bahagia dengan pengaturan hidup seperti ini. Keluarga tetap tidak terganggu, bahkan kehidupan seks dengan suami menjadi lebih baik. Ternyata, selingkuh ada manfaat dan kebaikannya juga. Hubungan kami berlanjut, dan aku merasa bahagia dengan pengaturan hidup seperti ini. Keluargaku tetap utuh, dan aku mendapatkan kepuasan yang selama ini tidak aku dapatkan.
Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya | Bokepbarbar Mirror
Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya tersedia tanpa biaya di Bokepbarbar Mirror. no sign up, baca sepuasnya no sign up.
Lihat juga: Nikmatnya Menembak Di Rahim Kakak Ipar Saat Dia Tidur, Semangat Ngentot Mbak Sarah Kakak Kandung Temanku, Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya.
Update cerita terbaru setiap hari di Bokepbarbar Mirror.
Info Download
Video akan tersedia untuk download setelah iklan dibuka.
Simpan Konten
Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.
Konten Serupa
Nikmatnya Menembak Di Rahim Kakak Ipar Saat Dia Tidur
Cerita Semangat Ngentot Mbak Sarah Kakak Kandung Temanku
Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya | Bokepbarbar Mirror
Bersetubuh Dengan Pacar Anak Ku yang Cantik Dan Harum Online
Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan - Story
Cerita Dewasa Mama Janda Dan Anak Kesayangan Online
Read Kisah Nyata Ngentot Pembantu Yang Masih Perawan Cerita Ngewe Viral