Cerita Sex Dewasa – Aku melirik jam tanganku, menunjukkan pukul 14.00. Waktu makan siang sudah lewat, dan perutku mulai berkoar. Suasana kantor hari itu terasa lengang. Ponselku bergetar, sebuah pesan dari Siska, adik iparku. Mataku berbinar, senyum kecil terukir. Sudah lama kami tidak makan siang berdua. Kedekatan kami berdua bermula dari seringnya saling bertelepon dan makan siang bersama saat jam kantor. Kami selalu menjaga rahasia ini. Tanpa berpikir dua kali, aku bergegas keluar. Kulihat Siska sudah menunggu di depan kantor. Gaun selutut merah marun membalut tubuhnya, membuat kulit putih mulusnya bersinar. Rambutnya diikat asal-asalan, menambah kesan sensual pada penampilannya. Hidung mancungnya yang indah, bibirnya yang sedikit basah, membuatku terpaku sejenak. “Mas Andy, udah lama nunggu?” tanyanya sambil tersenyum. “Enggak kok, aku juga baru nyampe,” balasku, berusaha menyembunyikan getaran di dadaku. Kami memilih restoran Jepang yang tenang, cocok untuk mengobrol. Obrolan kami mengalir santai, dari pekerjaan hingga masalah rumah tangga dan seks masing-masing. Aku jadi ingat, istriku sangat ketinggalan zaman soal seks, sementara Siska sangat menyukai variasi dan open minded. Siska juga anak yang paling cuek dan modern di keluarga istriku. Siska mulai berkeluh kesah. “Aku enggak habis pikir, Mas. Suamiku itu cuma minta jatah, tapi dia enggak pernah mikirin aku. Mainnya cuma hitungan menit, langsung crot,” keluhnya. Matanya berkaca-kaca. “Aku enggak pernah ngerasain yang namanya orgasme, Mas! Enggak pernah!” lanjutnya. Aku merasa prihatin. Siska adalah tulang punggung keluarga, tapi tidak mendapat kasih sayang yang layak. Aku mencoba menenangkan Siska, “Sabar, Sis. Aku ngerti. Aku juga punya masalah yang sama, tapi beda penekanannya,” kataku, lalu menceritakan kebiasaan istriku yang sering ngambek tidak jelas dan tidak mau diajak bicara berhari-hari. Setelah makan siang, kami berpisah. Aku berdiri di sana, melihat taksi yang membawa Siska menjauh. Ada sesuatu yang bergejolak di dadaku, perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Itu salah, tapi aku tidak bisa menolak. Seminggu kemudian, Siska meneleponku, memberitahu ia harus pergi ke Bali untuk penugasan kantor. Ia memintaku menemaninya, karena ia tahu kantor aku juga punya proyek di sana. Aku sempat tidak berminat, tetapi karena kasihan dan berpikir Siska adalah adik ipar yang tidak akan ada apa-apa, aku mengiyakan. Kami pun berangkat. Di pesawat, Siska mengenakan jeans ketat dan kaos putih, rambut digerai, dan aroma parfumnya yang manis membuatku ingin bersandar. “Mas Andy, makasih ya udah mau nemenin aku,” katanya. Sesampainya di Bali, kami menuju hotel. Aku sudah memesan dua kamar di Hotel Four Season Jimbaran, sebuah hotel bernuansa alam yang romantis. Saat di resepsionis, aku meminta dua kunci kamar. Siska langsung bertanya, “Oh, dua ya kuncinya?”. Aku bilang aku takut lupa jika berdekatan dengan wanita. Siska tertawa, “Ngak usah bayar mahal-mahal, satu bungalow saja ‘kan kita juga saudara pasti engga akan terjadi apa-apa kok”. Aku yang sudah berdebar, mengangguk setuju. Kami akhirnya berbagi satu bungalow. Saat menuju bungalow dengan buggy car, aku melihat wajah Siska, “Ya ampun, cantik sekali dan hati saya mulai bergejolak”. Suaminya tidak tahu diuntung. Di dalam bungalow, kami merapikan barang bawaan. Saat aku ingin menggantungkan jas, tanganku tidak sengaja menyentuh dada Siska. Siska malah tertawa, “Enggak apa-apa, Mas, anggap aja rezeki,” katanya. Wajahnya memerah, dan itu membuatnya semakin cantik. Setelah merapikan semuanya, kami menonton film bersama. Ada adegan ranjang, dan aku melirik Siska. “Kalau gini terus, aku bisa enggak tahan nih,” kataku, bercanda. Siska tersenyum, “Mau ke mana? Sini aja. Jangan takut,” katanya sambil menarik tanganku. Kami mulai mengobrol, berandai-andai seandainya kami bertemu lebih dulu. “Sis, kamu kok cantik banget sih?” tanyaku, memberanikan diri. “Nah, kan, mulai deh rayuan gombalnya,” jawab Siska. Baca juga Cerita Menyetubuhi Adik Ipar Perawan “Sungguh kok, aku enggak bohong,” kataku. Aku meraih tangan Siska, perlahan mengelusnya. “Ow, geli banget, Andry. Nanti aku bisa lupa kalau kamu itu suami kakakku,” bisik Siska. “Biarin aja,” balasku. Perlahan tapi pasti, tanganku merayap ke pundak Siska, membelai rambutnya. Siska membalas pelukanku, membelai kepala dan rambutku. Aku mencium keningnya, dan Siska berbisik, “Andry, kamu gentle banget.” Ia membalas ciuman di bibirnya. Siska membalas ciumannya dengan agresif. Aku menyadari Siska tidak pernah diperlakukan selembut itu. Nafas Siska mulai tidak beraturan. Tanganku merambat ke area dada Siska. Aku mulai berani, tanganku masuk ke balik BH Siska. Siska kaget, tapi tidak menolak. Ia malah menggelinjang saat putingnya yang sudah mengeras dimainkan. Aku membuka kancing baju dan melepaskan BH Siska. “Wow, betapa indah serambi lempitnya,” pikirku. Putingnya berwarna merah muda. “Andry, kok jadi gini?” tanya Siska. “Aku suka sama kamu, Sis,” jawabku, lalu menyambar serambi lempitnya dengan lidah, membuat Siska mendesah-desah keenakan. Keringat mulai mengucur dari badannya yang harum dan putih halus. Aku terus bermain dengan lidahku, menghisap puting Siska, sementara Siska mulai membuka bajuku. Aku membalas, membuka kancing rok Siska. Terlihat paha mulusnya yang merangsang. Kini kami hanya memakai CD. Siska membelai pundak dan badanku, sementara lidahku turun ke arah pangkal paha Siska. “Oh, Andry, enak dan geli sekali,” bisiknya. Aku menurunkan CD-nya, Siska berbisik, “Andry, jangan bilang sama siapa-siapa ya, terutama kakakku.” “Emang aku gila apa,” balasku. Setelah CD-nya turun, aku mulai menjilati kelentitnya yang berwarna merah menantang. Awalnya Siska menolak. “Nah, sekarang saatnya kamu mencoba,” kataku. Lidahku menari-nari di kelentit Siska, membuat Siska meraung. “Ohh… Andry… enaaaaaak sekali! Aku enggak pernah merasakan ini sebelumnya. Kamu pintar sekali sih,” teriaknya. Aku terus menjilati kelentit dan lubang serambi lempitnya. Tidak lama kemudian, Siska menjerit. “Auuuw, aku keluar, Andry! Ohhhh, enak sekali!” teriaknya. Ia langsung menyambar rudalku dan melumatnya dengan agresif. Istriku tidak pernah mau melakukan oral seks denganku. Siska begitu lincah, menghisap rudalku keras sekali, dan orgasme lagi. Siska melepaskan rudalku. “Andry, ayo dong, masukin ke sini,” katanya sambil menunjuk serambi lempitnya. Aku perlahan menuntun rudalku masuk. Lanjut bab dua: Cerita Dewasa Hubungan Erotis Dengan Adik Iparku Si Siska CHAPTER DUA Siska terpejam saat rudalku masuk ke dalam serambi lempitnya. “Ohhhh… Andry, biasanya suamiku sudah selesai dan aku belum merasakan apa-apa. Tapi kini, aku sudah dua kali keluar, kamu baru saja mulai,” bisiknya. Aku mengangkat kedua kakinya ke atas, sehingga penetrasi bisa lebih dalam. Aku menyodoknya keluar masuk dengan tempo konstan. Siska terpejam, terus menggelinjang, dan bertambah liar. Aku tidak menyangka Siska bisa seliar itu di ranjang. “Uhhhhh… Andry, aku keluar lagi,” teriaknya. Aku mengangkat rudalku, dan kami berganti posisi. Kali ini Siska yang mengontrol permainan. Ia naik turun, makin lama makin kencang, sambil menggoyangkan pantatnya. Tangannya memegang pundakku keras sekali. “Andry, aku keluar lagi… Kamu kok kuat sekali?” tanyanya. “Come on, Andry, keluarin dong, aku sudah enggak tahan,” pintanya. “Enggak, aku mau bikin kamu keluar terus,” jawabku. “Kan kamu bilang enggak pernah orgasme sama suami kamu, sekarang aku bikin kamu orgasme terus.”. “Iya sih, tapi ini betul-betul luar biasa, Andry… Ohhh… betapa bahagianya aku kalau bisa setiap hari begini sama kamu,” katanya. Aku bilang aku mau mencoba doggy style. “Apa tuh?” tanya Siska. “Ya ampun, kamu enggak tahu?” aku heran. Aku membantunya menungging dan memasukkan rudalku yang sudah banjir. Aku mulai menusuknya keluar masuk, makin lama makin kencang. Siska berteriak dan mengguncangkan tubuhnya. “Andry… ampun, deh, aku keluar lagi nih,” teriaknya. Aku juga sudah mau keluar. “Nanti, kalau aku keluar, maunya di mulut Siska,” kataku. “Ah, jangan, kayaknya jijik, deh,” jawabnya. “Coba dulu, ya?” pintaku. Siska mengangguk. Tiba saatnya aku orgasme, aku mencabut rudalku dan mengarahkannya ke mulut Siska. Tangannya mengocok rudal Andy. “Sis… udah mau keluar,” bisikku. Rudalku langsung dimasukkan ke mulutnya. Creeetttttt… Spermaku memenuhi mulut Siska, berceceran di pipi dan serambi lempitnya. Siska terus menjilati rudalku sampai bersih. “Gimana, Sis? Enak enggak rasanya?” tanyaku. “Lumayan,” jawabnya. Setelah itu, kami tertidur sampai jam setengah sepuluh malam. Siska mengecup bibirku dengan lembut. “Andry, thanks a lot… aku benar-benar puas. Walaupun ini hanya sekali saja pernah terjadi,” bisiknya. Sinar mentari pagi menyusup dari celah jendela bungalow. Mataku mengerjap, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya. Aku merasakan sesuatu yang lembut di sampingku. Kulihat Siska masih terlelap, telanjang. Selimut hanya menutupi setengah tubuhnya. Pemandangan itu memicu ingatan semalam. Sensasi hangat, desahan, dan teriakannya yang penuh kenikmatan. Aku merasa campur aduk. Bahagia, tapi juga rasa bersalah. Aku memandangi wajah damainya. Pucat dan lelah, tapi bibirnya sedikit tersenyum. Aku bangun perlahan, menyelimuti tubuh Siska hingga dada. Kuelus rambutnya, lalu bangkit menuju kamar mandi. Selesai mandi, aku melihat Siska sudah duduk di teras, memandang ombak di kejauhan. Ia mengenakan kimono hotel, rambutnya yang basah terurai. Ia menoleh dan tersenyum padaku. Senyum itu terasa tulus dan berbeda dari biasanya. “Pagi, Mas,” sapanya. Suaranya serak. “Pagi, Sis. Enggak kedinginan di luar?” tanyaku, mengambil kursi di depannya. “Enggak kok, enak di sini. Dingin-dingin anget,” jawabnya sambil terkikik. Ia menyesap teh dari cangkir, matanya kembali menatap laut. Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Kecanggungan mulai menyelimuti. “Mas,” panggilnya, “makasih ya. I’ve never felt so alive.” Aku mengangguk. “Aku juga, Sis.” “Jadi, kita enggak akan bahas semalem?” tanyanya, sedikit ragu. “Kenapa harus dibahas?” balasku. Aku ingin membuatnya merasa nyaman, seolah semua yang terjadi semalam adalah hal yang wajar. Siska meletakkan cangkirnya. “Aku cuma mau Mas tahu, aku enggak nyesel. No regrets at all.” Aku meraih tangannya. “Aku juga, Sis. Aku senang bisa bikin kamu bahagia. Itu yang paling penting buat aku.” Ia tersenyum, pipinya merona. “Aku tahu Mas orang baik. Mas enggak akan ngerusak aku. Aku percaya itu.” Kami sarapan dalam diam, tapi kehangatan terasa. Selesai sarapan, kami bergegas bersiap untuk proyek kantor. Pukul 09.00 pagi, kami bertemu dengan tim proyek dan menghabiskan hari dengan rapat dan survei. Kami berdua berusaha profesional, seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Aku mencuri-curi pandang ke arah Siska. Ia tampak serius, tapi sesekali matanya bertemu denganku, dan ia akan mengedipkan mata atau tersenyum nakal. Anjing, gila nih anak, pikirku. Malam harinya, kami kembali ke bungalow. Suasana jauh lebih cair. Tak ada lagi kecanggungan. Siska langsung melemparkan dirinya ke sofa. “Aduh, capek banget, Mas,” keluhnya. “Badanku pegel semua.” “Ya udah, istirahat aja,” kataku. Siska menggeleng. “Enggak, aku mau Mas yang mijitin aku. Come on,” pintanya, menepuk-nepuk pahanya. Aku tersenyum, mendekat. Aku memijat kakinya. Perlahan naik ke paha, lalu ke punggung. Siska mendesah keenakan. “Ughhh… enak banget, Mas. Masih inget aja ya, di mana titik-titik lemah aku,” bisiknya, terkekeh. Aku mencium tengkuknya. “Aku inget semuanya, Sis,” bisikku balik. Siska membalikkan badannya. “Mas, aku mau jujur. Aku tahu kita enggak boleh kayak gini. Tapi aku enggak bisa nahan perasaan aku,” katanya, matanya menatapku lekat. “Aku nyaman sama Mas. Aku ngerasa dihargai.” Aku mengangguk. “Aku juga. Perasaan ini enggak bisa dipungkiri.” Siska merayap ke atasku. Ia mengecup bibirku lembut, lalu menciumku dengan agresif. Ciumannya lebih menuntut dari semalam. Aku membalas, dan tangan kami mulai menjelajah. Ia melepas kemejaku, dan aku melepas kausnya. Kami kembali telanjang. Siska menuntun tanganku ke serambi lempitnya. “Mas, aku pengen banget kamu jilat lagi,” bisiknya. “Aku kecanduan.” Aku menurutinya. Aku mulai menjilati kelentit dan lubang serambi lempitnya. Kali ini, Siska langsung meraung. “Ohhh… Andry, jangan berhenti! Terus… terus…” teriaknya. Ia meremas kepalaku, dan aku tahu ia akan segera klimaks. Ia menjerit, tubuhnya bergetar hebat. “Ohhh… I’m coming… I’m coming…” teriaknya. Ia jatuh lemas di sofa. Aku bangkit, menatapnya. Ia tersenyum malu. Aku memasukkan jariku ke mulutnya, menyuruhnya menghisap. Ia menurut, menjilati jariku sampai bersih. “Kamu mau aku gentle atau rough?” tanyaku. “Aku mau semuanya. Take me, Mas, take me rough,” jawabnya. Matanya penuh hasrat. Aku mengangkatnya, menggendongnya menuju kamar. Ia melilitkan kakinya di pinggangku. Aku membaringkannya di ranjang dan mengambil posisi doggy style. Aku memasukkan rudalku yang sudah tegang. “Mas… faster… harder,” teriaknya. Aku menyodoknya keluar masuk dengan gila-gilaan. Siska berteriak dan membalas dengan mendorong pantatnya ke arahku. Suara plak-plok dari gesekan tubuh kami memenuhi kamar. “Andry… ahhhh… I’m coming again…” teriaknya. Aku menahan klimaks. Siska berteriak dan meraih tanganku, ia menjilati jari-jariku, mengocok rudalku. Ia ingin rudalku klimaks di dalam mulutnya. Ia tahu aku mau itu. “Mas… aku mau lagi,” bisiknya setelah aku klimaks, suaranya serak. Aku lelah. Badanku terasa lemas. Aku hanya mengangguk. Siska naik ke atasku, mengendalikan permainan. Ia mengocok rudalku, dan setelah tegang lagi, ia memasukkannya ke dalam serambi lempitnya. Kami bercinta sampai subuh. Baca juga: Ngentot Sama Kakak Ipar Kesepian Akibat Suaminya Sakit

Cerita Dewasa Hubungan Erotis Dengan Adik Iparku Si Siska - Story

723 views 1 bulan lalu

Bokepbarbar Mirror adalah lokasi paling bagus untuk membaca Cerita Dewasa Hubungan Erotis Dengan Adik Iparku Si Siska. bandwidth gede dan refresh segera.

Lihat juga: Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya, Cerita Dewasa 2026 – Istriku Mengajak Ibu Kandungku Main Bertiga Denganku, Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu.

Baca gratis tanpa iklan mengganggu di Bokepbarbar Mirror.

Simpan Konten

Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.