Sangelink – Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono . Ponsel di kantong celana kerja aku bergetar. Kulihat notifikasi, ada pesan dari Bu Dewi, majikanku. Aku menghela napas. Sejak suaminya, Pak Bimo, pergi dinas ke luar negeri seminggu yang lalu, aku makin sering dapat pesan dari beliau. Awalnya cuma tanya-tanya soal keamanan rumah, sekarang mulai masuk hal-hal personal. “Mas Pono, lagi di mana?” tulisnya. Aku lagi jaga di pos depan. “Di pos, Bu. Kenapa?” “Sini sebentar ke ruang kerja aku. Ada yang mau aku minta tolong.” Aku langsung berdiri. Ruang kerja Bu Dewi di lantai dua, di pojok dekat balkon. Aku naik tangga, deg-degan. Entah kenapa, tiap kali berinteraksi sama Bu Dewi, ada rasa lain yang muncul. Mungkin karena beliau cantik banget, usianya sekitar 35 tahun, tapi badannya masih kayak gadis. Rambutnya panjang, sering dikuncir kuda. Ditambah lagi, sorot matanya yang tajam bikin aku sering salah tingkah. Aku ketuk pintu. “Masuk, Pono,” suara Bu Dewi dari dalam. Aku buka pintu perlahan. Bu Dewi sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia pakai tank top tipis warna hitam dan celana pendek selutut. Aku langsung menunduk, enggak berani natap matanya. “Duduk sini, Mas,” katanya sambil menepuk kursi di depannya. Aku duduk, masih menunduk. “Ada yang bisa aku bantu, Bu?” “Tolong pijitin aku, Mas. Leher aku pegal sekali.” Jantungku rasanya mau copot. Memijat majikan? Ini di luar tugasku. Tapi aku enggak bisa nolak. Aku bangkit, berdiri di belakang kursi Bu Dewi. Kulihat bahunya yang mulus, terpapar jelas karena tank top yang beliau pakai. Aku mulai memijat. Jemariku menyentuh kulitnya yang halus. Dia memejamkan mata, menikmati pijatan aku. Topik menarik lainnya: Cerita Seks Mengulum Penis Majikan “Enak, Pono,” desahnya. Pijatan aku pindah ke lehernya. Tanganku menyentuh tengkuknya yang beraroma wangi. Aroma tubuhnya menguar, menusuk hidung aku. Aku jadi makin salah fokus. Aku terus memijat, membiarkan jemariku bergerak perlahan. Aku bisa merasakan otot-ototnya yang menegang. “Pelan-pelan saja, Pono. Aku suka pijatanmu,” katanya lagi, suaranya terdengar serak. Aku terus memijat, sampai tanganku merosot ke pundaknya. Aku memijat pundaknya dengan sedikit lebih kuat. Bu Dewi menyandarkan kepalanya ke belakang, pas ke dadaku. Jantung aku makin enggak karuan. Aku bisa merasakan napasnya di kulit leherku. “Mas Pono,” bisiknya. “Kamu tahu, suamiku sudah lama enggak menyentuh aku seperti ini.” Aku terdiam. Aku enggak tahu harus jawab apa. Bu Dewi bangkit dari duduknya, berbalik menghadap aku. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajah aku. Matanya menatapku lekat. “Kamu mau sentuh aku, Pono?” Pertanyaannya bagai petir di siang bolong. Aku cuma bisa menggeleng. Bu Dewi tersenyum. Senyum yang penuh arti. “Kenapa? Kamu takut?” Aku mengangguk. “Itu enggak benar, Bu,” kataku terbata-bata. “Enggak ada yang salah, Pono. Aku butuh kamu sekarang.” Belum sempat aku mencerna perkataannya, Bu Dewi sudah mendekapku. Ia membenamkan wajahnya di dada aku. Tangannya melingkari leherku. Aku terpaku. Aku bisa merasakan payudaranya yang kenyal menempel di dada aku. Bau parfumnya makin menusuk. Aku menelan ludah. “Aku sudah lama kesepian, Pono,” bisiknya. “Aku mau kamu.” Aku enggak bisa menahan diri lagi. Naluri primitifku bangkit. Aku membalas pelukannya, tanganku melingkar di pinggangnya. Aku mengendus rambutnya, mencium aroma sampo yang segar. Bu Dewi mendongak, matanya menatap mataku. “Cium aku, Pono,” pintanya. Aku enggak menunggu lama. Aku menunduk, mencium bibirnya. Ciuman pertama terasa kaku. Tapi Bu Dewi membalasnya dengan berani, membuka sedikit bibirnya. Aku jadi makin berani, menjulurkan lidahku, menyapu bibir bawahnya. Bu Dewi membalas, lidah kami bertemu, saling membelit. Ciuman kami makin panas. Aku mendorongnya ke dinding, tanganku menggerayangi punggungnya. Aku meraba kulitnya yang mulus, merasakan keringat halus yang mulai membasahi tubuh kami. “Nngghhh…” erang Bu Dewi. Ia melepas ciuman, mendesah. “Kamu…” napasnya terengah-engah, “…enak banget ciumnya, Mas.” Aku enggak bisa menjawab. Otakku sudah kosong. Aku cuma ingin terus menciumnya. Aku kembali melumat bibirnya. Kali ini, tanganku bergerak lebih jauh. Aku memasukkan tanganku ke dalam tank topnya, membelai payudaranya yang penuh. Bu Dewi terperanjat, napasnya terhenti sejenak. Tapi kemudian, ia memejamkan mata, membiarkan tanganku berkreasi. “Ahhh… Pono…” desahnya. “Sentuh lagi…” Aku meremas payudaranya, meremas pelan. Bu Dewi mendesah, kepalanya mendongak, matanya terpejam. Aku makin berani, tanganku memilin putingnya. Bu Dewi mengerang, suaranya makin kencang. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang. Lanjut » Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Dan Pembantunya Bernama Pono CHAPTER DUA “Bawa aku ke kasur, Mas,” bisiknya. Aku menggendongnya. Tubuhnya ringan. Aku membawanya ke kasur besar di kamarnya. Aku merebahkannya, aku ikut merebahkan diriku di sampingnya. Aku menatap matanya, mata yang penuh hasrat. Aku tahu, malam ini akan jadi malam yang panjang. Aku menciumnya lagi, bibir kami saling melumat. Tanganku meraba pahanya yang mulus. Aku bisa merasakan celana dalamnya yang tipis. Aku membelai pahanya, naik ke atas. Bu Dewi mendesah, kakinya bergeser, membuka sedikit. Aku enggak menunggu lama, aku masukkan tanganku ke dalam celana dalamnya. Jemariku menyentuh celah basahnya. Bu Dewi terperanjat, tapi kemudian mendesah nikmat. “Ughh… Basah banget, Pono…” bisiknya, suaranya serak. Aku memainkan jemariku, mengusap klitorisnya. Bu Dewi mendesah, desahannya makin kencang. Ia menggerakkan pinggulnya, meminta lebih. Aku tahu apa yang ia mau. Aku mencium lehernya, menciumi bahunya, turun ke payudaranya. Aku mengulum putingnya, menghisapnya, membuat Bu Dewi mengerang. “Aahhhh… Pono… isap… lagi… nghhh…” Aku melakukannya. Aku terus mengulum putingnya, menghisapnya, membiarkan lidahku bermain. Tanganku juga enggak tinggal diam, terus mengusap, menusuk-nusuk, dan memainkan klitorisnya. Bu Dewi mendesah kencang, suaranya memenuhi kamar. Aku tahu, ia hampir sampai. Aku mempercepat gerakan jemariku. “Aaaahhhh… Pono… aku… ahhhhh…” Ia mendesah kencang, tubuhnya bergetar. Ia orgasme. Aku tersenyum. Aku tahu, ini baru permulaan. Aku bangkit, melepas pakaian aku, membiarkan tubuh aku telanjang. Bu Dewi menatapku. Matanya turun ke bawah, ke arah kontol aku yang sudah menegang. “Pono…” bisiknya, “gede banget kontol kamu…” Ia meraba kontol aku. Tangannya membelainya, mengusapnya, membuatku mengerang. Ia menatap mataku, matanya penuh hasrat. “Aku mau kamu…” bisiknya. Aku enggak menunggu lama. Aku memosisikan diri di antara pahanya. Ia membelai wajahku, mencium bibirku. Aku menciumnya balik, sambil perlahan, aku masukkan kontol aku ke dalam memeknya. “Sssshhhhh…” desah Bu Dewi, matanya terpejam. “Enak… Pono… terus…” Aku mulai bergerak, pelan-pelan. Gerakan aku ritmis. Bu Dewi mendesah, desahannya berirama dengan gerakan aku. Aku mendengar suara gesekan tubuh kami, suara decakan, dan desahan nikmat. Aku mempercepat gerakan. Bu Dewi membalas, pinggulnya bergerak naik turun. Ia melingkarkan kakinya di pinggangku, mendekapku erat. “Ahhh… ahhh… Pono… terus… yang kenceng…” bisiknya. Aku menggerakkan pinggulku, menusuk-nusuk memeknya. Aku bisa merasakan memeknya yang basah dan sempit. Aku mengerang, rasa nikmat ini enggak tertahankan. Aku terus menusuknya, membiarkan kontol aku keluar masuk. Aku bisa merasakan ia hampir sampai lagi. “Aahhh… ahhh… aku… ahhhhh…” Ia berteriak, tubuhnya bergetar. Aku tahu ia orgasme lagi. Aku enggak bisa menahan lagi. Aku mempercepat gerakan, aku menusuknya dalam-dalam. “Ahhh… ahhh… aku… keluar…” Aku menjerit. Aku memuntahkan spermaku di dalam memeknya. Rasanya luar biasa. Aku merebahkan diri di atas tubuhnya, napas kami berdua terengah-engah. Kami berpelukan, berciuman, membiarkan tubuh kami menyatu. Malam itu, kami enggak tidur. Kami terus bercinta, sampai pagi datang. Aku tahu, ini salah. Tapi aku enggak bisa menolak. Aku sudah jatuh cinta pada majikanku, dan dia pun demikian. Hubungan terlarang ini, sudah dimulai. Beberapa hari kemudian… Hubungan kami berlanjut. Bu Dewi makin sering memanggil aku ke kamarnya. Kadang di siang hari, kadang di malam hari. Kami sering bercinta. Di kasur, di sofa, di kamar mandi. Kami enggak peduli. Kami cuma ingin terus bercinta. Suatu hari, Bu Dewi memanggil aku ke kamarnya. Aku masuk, ia sudah telanjang di kasur. Ia menatapku, matanya penuh hasrat. “Pono,” bisiknya, “aku mau kamu sekarang. Di sini, di depan jendela. Biar aku bisa lihat pemandangan.” Aku menelan ludah. Jendela kamarnya besar, pemandangan ke taman. Kalau orang dari luar lihat, pasti bakal kelihatan. Tapi Bu Dewi enggak peduli. Ia sudah gila seks. Aku pun sama. Aku melepas pakaian, langsung menghampirinya. Kami bercinta di depan jendela. Sambil bercinta, kami bisa melihat pemandangan taman. Itu bikin seks kami makin panas. “Ahhh… Pono… liat pemandangan… sambil…” desahnya. “Aahh… Bu… enak banget…” aku mengerang. Aku menggerakkan pinggulku, menusuk memeknya. Ia mendesah, suaranya makin kencang. Kami terus bercinta, sampai akhirnya kami sama-sama klimaks. “Aku suka seks di depan jendela, Pono,” bisiknya. “Besok, kita coba di balkon.” Aku tersenyum. Aku tahu, hubunganku dengan Bu Dewi akan terus berlanjut. Ini salah, tapi aku enggak peduli. Aku sudah terlanjur jatuh cinta, dan aku suka seks dengannya. Hubungan ini, semakin liar dan gila setiap harinya.

Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono

1,325 views 1 bulan lalu

Baca Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono live di Bokepbarbar Mirror. Semua chapter tersedia, sudah 1.3K pembaca.

Lihat juga: Cerita Dewasa Terlarang Bercinta Dengan Sepupu, Kisah Nyata Bercinta Dengan Janda Anak Satu Cerita Mesum, Nikmatnya Menembak Di Rahim Kakak Ipar Saat Dia Tidur.

Cerita viral dan trending di Bokepbarbar Mirror.

Simpan Konten

Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.